Gallery
0

Galeri Lufi

0

Saya Kalah

Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 7.30 waktu Indonesia bagian Ciputat, seperti biasa sebelum saya ikut bertebaran di muka bumi saya sempatkan diri untuk melihat-lihat proses rehabilitasi Musholla Al Barokah depan rumah dimana nama saya tercantum sebagai panitia.:)

Setelah ngobrol-ngobrol bersama beberapa tukang yang sedang ngopi dan ngeteh saya dipanggil Babeh yang tak lain sebagai pengurus musholla tersebut. Saya dimintanya untuk membeli benang/tali untuk dipakai tukang karena siangnya akan dipakai para tukang untuk memasang keramik. Tanpa banyak kalam, berangkatlah saya menuju toko bahan bangunan dengan sepeda motor yang sedari tadi sudah saya panaskan. Di toko pertama dimana saya biasa belanja bahan bangunan ternyata lagi tidak available alias gak ada. Saya pun melanjutkan ke toko material yang satu lagi yang tidak jauh dari toko yang pertama. Di toko inilah poin utama catatan ini bermula, setibanya di toko ini saya langsung disapa beberapa pembantu toko. Tidak begitu penting memang tapi itu jelas diajarkan baik oleh agama maupun para cendekiawan marketing di dunia, menyapa calon pembeli (baru calon loh belum transaksi). Berbeda dengan toko yang sebelumnya, dimana saya harus plangak plongok dulu untuk kemudian disapa mau nyari apa.

Pelajaran kedua yang saya dapat adalah ketika saya hendak membayar, dua orang kasir yang menjaga meja dengan ramah menanyakan apakah ada yang lain yang diperlukan oleh saya. Maaf tapi saya gak yakin mbak-mbak ini telah dapat pelatihan/training customer satisfaction, nyatanya mbak-mbak ini menguasai etika melayani calon pembeli. Luar biasa.

Pelajaran terakhir yang saya dapat dari toko bahan bangunan ini adalah dibalik meja kasir saya melihat altar kecil untuk menaruh sesajian buah atau dupa dengan wangi menyengat. Yang membuat saya semakin berpikir bahwa saya selama ini kalah dengan mereka (maaf, chinese non muslim) adalah sesajian itu selalu diganti tiap hari dengan buah-buahan yang fresh, yang segar dan yang terbaik yang bisa didapat si n’ci atau si ngkoh, belum lagi keindahan altar yang berwarna emas menyala dengan sorot lampu yang cukup silau. Saya melihat salah seorang pembantu toko itu sedang menyiapkan buah semangka baru (kayaknya non biji), melon, buah naga atau apel yang masih fresh padahal di altar saya melihat buah-buahannya masih sangat layak/baik tapi mereka berniat menggantinya dengan yang lebih baik lagi.

Inilah makna kehambaan yang mereka ajarkan kepada saya, mereka mengajarkan bahwa berikanlah yang terbaik untuk Tuhanmu karena engkau juga meminta yang terbaik kepada Tuhanmu.

 

Terima kasih Koh..saya mengaku KALAH