0

Penegak Hukum: Tidak Beribu Tidak Berbapak…

Akhir-akhir ini banyak media menyoroti salah satu partai Islam di tanah air kita ini, partai yang memang punya soliditas kader yang kuat, PKS. Isu utamanya adalah kasus dugaan korupsi impor daging sapi yang kemudian malah melebar ke kasus-kasus lain seperti pencucian uang bahkan sampai kasus perempuan.

Aktor utamanya adalah Fathonah, yang katanya adalah teman dekat Luthfi Hasan Ishaq, mantan presiden partai tersebut dan tentunya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Media televisi dan media cetak ramai-ramai memberitakan Fathonah dan Luthfi, terkesan menggiring opini masyarakat bahwa Luthfi sudah melakukana tindak pidana korupsi padahal belum dibuktikan dihadapan pengadilan. Politis…

Belum dibuktikan di pengadilan Luthfi ternyata sudah di ‘hakimi’ publik karena mencuatnya nama Darin Mumtazah, siswi salah satu SMK di Jakarta Timur, yang lagi-lagi baru katanya adalah istri siri Luthfi. Hadeuuh.. saya kasihan sama si Darin, kalau ternyata tidak terbukti terlibat dan ternyata dia bukan istri siri Luthfi bagaimana masa depannya yang sudah terlanjur di ‘rusak’ oleh opini media.

KPK tebang pilih?? bisa jadi karena memang banyak kasus korupsi lain yang lebih besar nilainya belum di usut tuntas KPK, Century, Hambalang, Petral dll belum jelas ujung pangkalnya. Sementara Luthfi, yang terima uang ‘suap’ pun belum sudah di ‘obok-obok’ KPK. Dugaan suap belum terbukti sudah digiring kasusnya ke tindak pidana pencucian uang (TPPU), Hadeuuuh lagi deh.. wong korupsinya aja belum terbukti sudah ke TPPU, uang yang mana yang mau di ‘cuci’. Kalau lihat Indonesia Lawyers Club beberapa waktu lalu di TV One, menurut Prof. Romli, salah satu pakar hukum di Indonesia, KPK ini bisa di tuntut balik oleh Luthfi.. wuihh pokoknya dengan segala penjelasannya deh.

Saya jadi teringat sebuah mutiara hikmah (local wisdom) Mandar, Sulawesi Barat, bunyinya begini:

“Naiya ada’ tammelo’ pai dipasoso’ tatti tonggang pai lembarna, takkeindo pai, takkeama pai, takke lelluluare’ pai, takkesola pai, takkewali pai andiappa to dikalepa’na andiang to disaliwanna, andiang to na poriona, andiang to na bire’na, tammappucung tandoppas toi.”

artinya

“Yang disebut badan penegak hukum adalah tegas dalam mengambil keputusan, tidak berat sebelah, tidak beribu, tidak berbapak, tidak punya saudara, tidak punya teman, tidak punya musuh, tidak diiming-iming kesenangan, tidak punya anak buah dan tidak pernah serakah.”

Menurut saya local wisdom ini sangat pas untuk KPK saat ini, KPK harus tegas, tidak beribu tidak berbapak dalam artian tidak dipengaruhi siapapun dalam menangani suatu perkara, apalagi masih ada kasus lain yang lebih besar dampak dan kerugiannya terhadap negara tercinta ini.

Lepas dari itu semua saya berharap, partai Islam ini tetap solid (yang nyatanya memang sudah solid), terus tumbuh, bekerja, berdakwah memperbaiki negara tercinta ini. Untuk KPK semoga amanah dari rakyat untuk memberantas korupsi di negri ini selalu terjaga, dilaksanakan tanpa tebang pilih, tidak terkontaminasi oleh kekuasaan atau pihak manapun karena di pundak KPK lah pemberantasan korupsi berada. Semoga…

IMG0003