0

Horee! Aufa bisa berjalan sendiri…

Horee… begitu teriak Kaka Liana melihat adik kecilnya Aufa sudah bisa berjalan sendiri. Kaka berteriak ayo ayo ayo di ikuti ketawa ketiwi Abang Lufi mengajak Aufa untuk terus berjalan sendiri di usianya yang akan menginjak 13 bulan.

Sambil sesekali terjatuh Aufa dengan senyum manisnya seakan tak pernah mau menyerah untuk berjalan sendiri, memang patut ditiru semangat Aufa ini sama Ayahnya.. hahaha… tidak mudah menyerah.

aufa jalan

0

Tips Membuat Foto Jalan2 Keluarga Tidak Membosankan

Libur tlah tiba, libur tlah tiba…. gitu kata Tasya

Family_vacationNah, pastinya banyak dari kita yang sedang melaksanakan liburan bersama keluarga. Libur akhir tahun seperti sekarang ini. Ada yang ke pantai, ada yang ke gunung, atau ke tempat hiburan lain seperti Dufan, Taman Safari dll. Pastinya berharap liburan berkesan, untuk menambah liburannya agar berkesan dan juga menjadi kenang-kenangan yang tidak membosankan saat dilihat nanti di kemudian hari, berikut ada tips menarik untuk membuat foto jalan-jalan atau liburan keluarga kita menjadi unik dan tidak membosankan yang saya ambil dari detik.com. berikut tipsnya:

  1. Siapkan kamera yang tidak terlalu berat. Kamera poket tidak ada salahnya, kamera handphone juga boleh :).
  2. Biasanya pose ‘foto standar’ yakni berdiri sejajar dan mengumpul di tengah frame. Coba lakukan sedikit variasi dengan posisi menyebar dari ujung kiri frame sampai ujung kanan frame..
  3. Selain menghadap kamera, usahakan ada adegan lain antar anggota keluarga misalkan saling berbincang, saling bercanda atau gunakan gaya yang unik lainnya. Jangan lupa tersenyum. Supaya terkesan candid dan natural.
  4. Adegan santap kuliner juga menarik diabadikan. Semua anggota keluarga duduk mengelilingi meja makan tanpa harus melihat ke kamera. Perhatikan posisi duduk supaya tidak ada yang memunggungi lensa.
  5. Saat berfoto di depan objek wisata seperti patung atau bangunan, sebisa mungkin hindari posisi yang membuat keluarga Anda tampak kecil, sementara patung/bangunannya tampil dominan. Pastikan keluarga Anda bisa tampil setidaknya 1/3 frame, sementara sisanya untuk background.
  6. Perhatikan arah matahari. Kalau berlibur di negara tropis, pastikan foto-foto tidak dilakukan di siang hari/backlight karena menyebabkan wajah menjadi gelap. Waktu yang tepat untuk foto-foto dilakukan sebelum jam 10.00 dan sesudah jam 16.00 hingga matahari terbenam.
  7. Gunakan variasi angle sekreatif mungkin. Tidak perlu terus-terusan frontal dari depan, Anda dapat melakukan dengan low angle atau high angle. Sudut pemotretan dari atas dengan lensa lebar mampu menangkap suasana dengan baik.
  8. Gaya-gaya foto candid juga terlihat cantik untuk diambil. Perhatikan ekpresi kebahagiaan saat keluarga Anda menikmati liburan. Bila saat menjepret namun momen terlepas, jangan sungkan untuk meminta keluarga Anda mengulangi adegan tersebut. Sedikit skenario dan adegan ulang tidak ada salahnya.
  9. Jangan lupa memotret detail dari setiap tempat yang dikunjungi. Juga suasana lokasi wisata, apakah ramai atau sepi. Bila ada sajian kuliner yang ciamik, jangan lupa dipotret dulu.

Semoga bermanfaat dan selamat liburan….

 

Sumber : detik.com

0

Change

When you change your thinking (pikiran)

You change your beliefs (keyakinan diri)

When you change your beliefs

You change your expectations (harapan)

When you change your expectations

You change your attitude (sikap)

When you change your attitude (sikap)

You change your behavior (tingkah laku)

When you change your behavior

You change your performance (kinerja)

When you change your performance

You change your destiny (nasib)

When you change your destiny

You change your life (hidup)

 

source: http://btcamp.wordpress.com/renald-kasalijangan-takut-melakukan-perubahan/

0

‘Menanam Manusia’

Menanam Manusia, itu judul yang saya pilih untuk catatan di jumat pagi ini. Judul itu saya pilih karena saya membaca sebuah pepatah china yang disampaikan oleh seorang narasumber dalam suatu acara workshop.

Redaksional lengkap pepatah china yang sudah di-inggriskan itu begini:

if you want one year of prosperity, grow grain

if you want ten years of prosperity, grow trees

if you want one hundred years of prosperity, grow people

buat saya, pepatah singkat ini sangat bermakna sekali, menyiratkan begitu berharganya ‘manusia’ dalam mengembangkan sebuah peradaban, sebuah peradaban yang menghasilkan kesejahteraan/kemakmuran (prosperity).

sudah saatnya manusia dihargai lebih, sudah saatnya pembangunan tak hanya berfokus pada infrastruktur, pembangunan fisik semata, tetapi sudah saatnya kita berfokus kepada pembangunan manusia. anggapan bahwa manusia (dalam manajemen perusahaan) adalah beban (pekerja) haruslah berganti menjadi manusia (pekerja) adalah sebuah investasi besar (perusahaan). seperti pepatah china diatas yang mengatakan jika kita hanya berorientasi pada kemakmuran/kesejahteraan hanya dalam periode tahunan (1 tahun) cukuplah bagi kita untuk menanam benih/biji-bijian karena benih tersebut sekiranya dapat mencukupi kebutuhan kita dalam satu tahun (panen). pun begitu jika kita menginginkan kemakmuran dalam periode dasawarsa (10 tahun), cukuplah bagi kita untuk menanam pepohonan yang akan berbuah (panen) tiap tahun dan mempunyai masa ekonomis y

ang dapat memenuhi kita 10 tahun kedepan. tetapi, jika kita menginginkan kesejahteraan lebih dari itu, lebih dari 1 tahun, lebih dari 10 tahun, yakni 100 tahun atau bahkan ribuan tahun kedepan maka tanamlah ‘manusia’.

menanam manusia bukanlah berarti kita harus mengubur hidup-hidup manusia, tetapi menanam manusia berarti kita harus mendidik manusia dengan ilmu yang bermanfaat untuk menciptakan generasi tak hanya hitungan satuan tahun, puluhan tahun, tetapi ber-abad-abad tahun kedepan.

pendidikan berperan besar dalam menciptakan one hundred years prosperity ini, karena hanya dengan pendidikan yang baik, berakhlak kita dapat memetik buah dari ‘benih manusia’ yang kita tanam, tak harus sekarang tapi mungkin 4 tahun kedepan, 10 tahun ke depan atau lebih dari itu, dan tak harus kita yang memetiknya, biarkan itu menjadi hak anak cucu kita kapanpun itu masa panennya. sekarang, yang penting yang harus kita lakukan adalah melatih diri kita menjadi ‘petani’ yang baik yang siap ‘menanam manusia’. Insya Allah