0

Pemimpin yang Berani

Selasa kemarin selesai mengajar, saya mampir disebuah acara, mampir karena dipanggil beberapa kawan yang menjadi panitia yang didepannya terdapat jejeran buku yang dijual. Rupanya sedang ada pelatihan tata kelola keuangan masjid, narasumbernya Ustad. Drs. Ahmad Yani, sedangkan para pesertanya adalah para anggota atau pengurus DKM masjid. Luar biasa, ternyata masih banyak orang yang perduli upgrading ilmu para takmir masjid.

Saya kemudian melihat-lihat jejeran buku yang dipajang didepan, ada buku menarik yang berjudul “Beginilah seharusnya menjadi pemimpin, 60 kisah pemimpin sejati” dengan penulis sang narasumber tadi. Harganya murah meriah, 36ribu. Di postingan kali ini saya mau mengutip cerita pertama dari buku tersebut, yakni tentang Pemimpin yang berani. Ceritanya gini,

Dalam kehidupan masyarakat, suasana aman dan damai tidak selalu bisa dipertahankan. Secara internal, mungkin hal itu bisa diwujudkan, namun bisa jadi ada negara lain yang tidak suka dengan kemajuan yang telah dicapai. Mereka berusaha untuk menghancurkan kaum muslimin. Dalam konteks ini, kadangkala terjadi peperangan secara fisik. Karena itu, pemimpin yang berani dalam menghadapi musuh dikala perang menjadi hal yang penting sehingga masyarakat yang dipimpinnya terdorong untuk memiliki keberanian sebagaimana pemimpinnya. Rasulullah saw merupakan satu diantara pemimpin yang berani itu.

Dalam medan tempur, Rasulullah saw seringkali berada pada barisan terdepan dalam menghadapi musuh. Karena itu, Ibnu Umar mengatakan, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berani dari Nabi Saw”. Sementara Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Apabila pertempuran menjadi sengit, para sahabat mencari tempat berlindung didekat beliau”. Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw adalah yang paling berani dari semua”.

Ketika perang badar terjadi, pasukan Rasulullah hanya berjumlah 314 orang, sedangkan pasukan musuh sebanyak 1000 orang lebih. Keberanian Rasulullah saw telah menggelorakan semangat para sahabat sehingga perang itu berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin. Di saat perang hunain, kekalahan hampir saja terjadi dikalangan kaum muslimin. Pasalnya pasukan muslim yang kali ini jumlahnya lebih banyak ternyata menganggap remeh lawan sehingga musuh menunjukkan kekuatannya. Alhasil para sahabat yang menjadi anggota pasukan lari kocar kacir. Dalam situasi seperti itu sebagai pemimpin, Rasulullah tetap berada pada posisinya dalam menghadapi musuh, beliau terus bertempur sambil memanggil kembali para sahabat yang telah meninggalkan medan laga. Melihat dan mendengar hal itu satu demi satu para sahabat memenuhi panggilan Rasul sebagai pemimpin dan panglima perang.

Pasukan muslim kembali terhimpun, Rasulullah tidak hanya sekedar mengobarkan semangat dan keberanian melainkan juga yang lebih penting lagi adalah memberi contoh langsung bagaimana keberanian itu harus ditunjukkan. Alhasil meskipun pasukan muslim jumlahnya tinggal sedikit, kemenangan tetap bisa diraih sebagaimana yang diharapkan.

Itulah sepenggal kisah tentang sosok pemimpin yang berani dari buku pak ustad. Semoga kelak kita apabila ditakdirkan menjadi seorang pemimpin dapat bersikap sedemikian. insyaa Allah.

0

Alhamdulillah Sudah 7 Tahun (Sebuah Catatan Perjalanan Hidup)

Hari ini, Selasa 28 Oktober 2014 tepat 7 tahun usia pernikahan kami. Alhamdulillah suka duka selalu kami hadapi bersama, dari dihadapi hanya berdua kini dihadapi dengan 5 orang. hehehe. Kini, ada Si Kaka Liana (6 tahun), Si Abang Lufi (3 tahun), dan Si Ade Aufa (bentar lagi 2 tahun). Alhamdulillah semuanya sehat wal afiat. Si Kaka udah kelas 1 SDIT di Asshidiqiyah, ga jauh dari rumah. Hafalannya sudah banyak, dari Al Fatihah sampe Al Fiil plus An Nabaa yang sudah 21 ayat (sampe dengan hari ini) dari 40 ayat. Si Abang lagi seru-serunya di PAUD Melati, ga jauh dari rumah juga, pastinya klo si Abang lagi sekolah si Ade juga ikutan berangkat.

 

Bu Ima, begitu ibu dari anak-anakku dipanggil, tampak lebih gemuk sekarang, hehehe, itu artinya aku berhasil membahagiakan istriku tercinta. Klo mau instrospeksi pake balanced scorecard rasanya dalam kategori perspektif customer, perspektif proses internal business process, learning and growth, semua itu rasanya bernilai baik, hanya perspektif financial saja yang masih warna merah. hahaha… belum ada “sesuatu” yang bisa dibanggakan. yang jelas kami tak pernah berhenti berdoa, berusaha, dan berdoa lagi. mungkin Allah dan para malaikat-Nya masih senang mendengarkan doa-doa kami, doa si Kaka yang hampir tiap malam ingin rumah yang besar, kamar sendiri, sepeda yang besar dan mobil. Insyaa Allah tepat pada waktunya hal itu semua akan terpenuhi. aamiin.

 

28 Oktober 2007 – 28 Oktober 2014. Alhamdulillah, Terima Kasih Yaa Allah.