Pemimpin yang Mengurus Perkawinan

sakinah

Salah satu ciri pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan kebutuhan (fitrah) anak buahnya. Seperti dicontohkan Rasulullah Saw terhadap salah seorang pembantu rumah tangganya, Rabiah al Aslamy. Rabiah adalah seorang pembantu Rasulullah yang telah dewasa. Suatu ketika, beliau bertanya kepadanya: “Apakah kamu tidak ingin menikah?”

“Demi Allah, aku tidak menginginkannya karena aku tidak punya apa-apa untuk menghidupi istri. Apalagi, aku tidak suka ada sesuatu yang menyibuki diriku sehingga aku tidak bisa mengerjakan sesuatu untukmu”, jawab Rabiah.

Rasulullah masih bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama dan Rabiah pun menjawab dengan jawaban yang sama pula. Namun, dalam hatinya ia berkata: “Demi Allah, tentu Rasulullah lebih tahu daripada aku apa yang lebih tepat bagiku di dunia dan akhirat. Maka, bila Rasulullah bertanya lagi aku akan menjawab: “Ya Rasul, perintahkan kepadaku menurut kehendakmu.”

Ternyata, beliau bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama seperti tadi. Rabiah pun menjawab dengan jawaban yang sudah dipersiapkannya itu. Rasulullah kemudian mengatakan “Pergilah ke keluarga Fulan dari kalangan anshar. Katakan kepada mereka, “Sesungguhnya, Rasul mengutusku kepada kalian agar kalian menikahkan aku dengan si fulanah (salah seorang diantara wanita mereka).”

Rabiah kemudian berangkat ke sana dan ia pun mengatakan apa yang diajarkan oleh Rasul kepadanya.

Mereka menjawab: “Selamat datang kepada Rasulullah dan utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh kembali sebelum keperluannya terpenuhi.”

Mereka kemudian menikahkan Rabiah, berlaku lemah lembut, dan tidak menanyakan mas kawin. Rabiah kemudian kembali kepada Rasulullah dengan perasaan sedih. Rabiah mengatakan kepada Rasul, “Ya Rasul aku telah mendatangi suatu kaum yang mulia, mereka menikahkan aku berlaku lemah lembut kepadaku dan tidak menanyakan mas kawin yang seharusnya aku tunaikan. padahal aku tidak punya apa-apa untuk mas kawin.”

Rasulullah kemudian mengatakan, “Wahai orang-orang aslam, kumpulkan dan berikan kepadanya butir-butir emas.”

Mereka mengumpulkan butir-butir emas dan memberikannya kepada Rabiah dan membawanya kepada Rasul. Sesudah itu, beliau menyatakan, “Pergilah dan bawalah ini kepada mereka dan katakan, “ini mas kawinnya.”

Rabiah kemudian mendatangi mereka dan mereka pun menerima mas kawin itu dengan senang hati, bahkan mereka mengatakan, “ini cukup banyak dan baik”

Sesudah itu Rabiah kembali lagi kepada Rasul dengan wajah muram. Beliau pun bertanya, “Wahai Rabiah mengapa kamu kelihatan sedih?”

” Ya Rasul aku belum pernah melihat suatu kaum yang lebih mulia dari mereka yang rela dengan apa yang kuberikan, berbuat dan berkata baik. Padahal, aku tidak punya apa-apa untuk resepsi perkawinan.”, jelas Rabiah.

Rasulullah bersabda lagi, “Wahai orang-orang, kumpulkan domba untuknya.” Maka, merekapun mengumpulkan domba-domba yang gemuk untuk Rabiah. Bahkan beliau menyatakan lagi, “Pergilah kepada Aisyah dan katakan kepadanya, “Hendaklah kamu mengirim sekeranjang makanan.”

Aisyah memberikan sembilan takar gandum, jumlah yang cukup banyak. Bahkan ia mengatakan, “Andai kami masih mempunyai makanan selain itu, kamu boleh mengambilnya.”

Setelah Rabiah memperlihatkan apa yang diterimanya kepada Rasul, maka beliau memerintahkan agar Rabiah segera membawanya kepada mertuanya itu. Ketika Rabiah tiba bersama beberapa sahabat, sang mertua mengatakan, “Kalau roti cukup kami yang mengerjakannya, sedangkan domba kalian yang mengerjakannya.”

Alhasil, Rabiah bersama beberapa sahabat menyembelih, menguliti dan memasak domba itu. Maka diadakanlah walimah dengan roti dan daging kambing.

Dari kisah diatas, ada pelajaran yang dapat kita petik bersama tentang tipikal seorang pemimpin, yakni:

1. Setiap pemimpin hendaknya memahami dan merespon apa yang menjadi kebutuhan anak buah atau masyarakatnya. Kepekaan seorang pemimpin mestilah terus diasah agar responsif terhadap lingkungannya.

2. Hendaknya seorang pemimpin mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya mempermudah bukan mempersulit keadaan anak buah atau masyarakatnya.

Semoga bermanfaat.

disarikan oleh penulis dari buku “beginilah seharusnya menjadi pemimpin, ust ahmad yani”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s