0

Arti Pentingnya Sebuah Keyakinan

Alkisah, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar. Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung. Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.

Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung. Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan. Salah seorang pemuda begitu penasaran dan bertanya pada si kakek.

“Kakek dan seluruh keluarga besar setiap hari terlihat begitu sibuk! Dari pagi sampai sore, menggali lereng gunung. Sebenarnya, apa maksud dan tujuan kakek?”

Si kakek menghentikan kerjanya. “Kami menggali untuk memindahkan gunung ini, Nak,” jawabnya mantap.

“Hah, memindahkan gunung?? Mana mungkin, Kek?!” tanya si pemuda tidak percaya.

“Gunung sebesar itu kok mau dipindahkan,” lanjutnya. “Kakek kan sudah tua. Saya yakin, sebelum gunung bisa dipindahkan, kakek pasti sudah meninggal lebih dulu. Dengan begitu, bukankah kakek mengerjakan sesuatu yang sia-sia belaka?”

Si kakek menjawab dengan lantang, “Kakek memang sudah tua. Tapi bila kakek meninggal, ada anak-anak yang meneruskan, ada cucu-cucu yang akan menggantikan, begitu seterusnya… Selama kami punya tekad, mau bekerja keras, penuh kesungguhan hati, dan konsisten, kakek yakin suatu hari kelak, gunung ini pasti bisa dipindahkan. Dan jalan kehidupan kita semua akan lebih mudah!”

Tekad si kakek dan keluarganya yang begitu kuat, menggoyahkan hati masyarakat sekitar situ. Maka, mereka pun berbondong-bondong bergantian, dengan peralatan yang seadanya, bahu membahu mulai ikut bersama-sama bekerja menggali lereng gunung itu.

Singkat cerita, hati para dewa di khayangan pun akhirnya tergerak ketika melihat tekad si kakek dan semangat warga desa. Kemudian, mereka sepakat membantu sang kakek untuk memindahkan gunung itu. Dan haaap, tangan para dewa sibuk melambai bekerja sama. Dalam sekejap, terjadilah keajaiban! Gunung pun berpindah tempat dan jalan terbentang luas menuju kemana pun masyarakat desa itu hendak pergi.

Netter yang luar biasa,

Di Tiongkok, kisah legenda ini terkenal dengan sebutan “Kisah si Kakek Bodoh Memindahkan Gunung.”

Walau cerita itu hanya sekadar legenda, namun pesan moral tentang kekuatan tekad dan kesungguhan hati ini sungguh luar biasa!! Kita tahu, kemajuan peradaban manusia tidak akan seperti sekarang, jika dunia ini tidak dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki tekad seperti kakek tua tadi. Saat ini, tak terhitung jumlah penemuan baru dan teknologi modern sebagai karya-karya spektakuler dari manusia-manusia bertekad baja. Sulit dibayangkan, apa jadinya dunia ini jika tidak ada manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar, tekad membaja, konsistensi, dan persistensi yang luar biasa.

Legenda di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kemajuan pribadi-pribadi, kemajuan masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekad. Tekad merupakan sumber motivasi yang menggerakkan manusia menuju cita-citanya. Tekad merupakan kekayaan sekaligus modal bagi kemajuan dan kemakmuran. Bagi mereka yang memiliki tekad yang sangat kuat, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Nothing is impossible under the sun.

Selama memiliki tekad, kesungguhan hati, keyakinan dan konsistensi, kita akan mampu mewujudkan apa yang kita cita-citakan.

Miliki tekad dan ciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin!
sumber : andriewongso.com

0

Change

When you change your thinking (pikiran)

You change your beliefs (keyakinan diri)

When you change your beliefs

You change your expectations (harapan)

When you change your expectations

You change your attitude (sikap)

When you change your attitude (sikap)

You change your behavior (tingkah laku)

When you change your behavior

You change your performance (kinerja)

When you change your performance

You change your destiny (nasib)

When you change your destiny

You change your life (hidup)

 

source: http://btcamp.wordpress.com/renald-kasalijangan-takut-melakukan-perubahan/

0

Tabel PTKP 2013

Seiring dengan dikeluarkannya PMK 162 Tahun 2012 tentang penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak maka perlu kawan-kawan terutama yang bergelut di payroll/penggajian/finance/tax ketahui bahwa sudah saatnya ancang-ancang/bersiap meng-update jumlah PTKP di worksheet payroll karena berlaku efektif januari 2013 ….. lumayan dapat kerjaan baru atau lemburan baru…hehehe.

berikut tabel perubahan PTKP 2013:

Oiya bagi yang mau donlot PMKnya bisa buka link ini: https://dl.dropbox.com/u/68159910/pmk-162_2012ptkp.pdf

 

 

0

Jangan Malu Mengatakan ‘Tidak Tahu’

Kita seringkali merasa malu untuk bilang ‘tidak tahu’ padahal sejatinya kita memang tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada kita. Akhirnya, terpaksa berbohong dan ‘ngarang-ngarang’ dalam menjawab pertanyaan tersebut. Padahal Rasulullah sendiri, meski derajatnya yang begitu tinggi, namun ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahui beliau secara jujur mengatakan, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya”.

Semua itu memang wajar, karena Allah Swt sendiri telah berfirman dalam surat Al Isra:85 “..dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”. Jadi, janganlah malu untuk bilang ‘tidak tahu’ jika memang kita ‘tidak tahu’ jawabannya.

disarikan dari kitab Al Wafi

0

Saat yang Tepat melatih Putri kita memakai Hijab

Sudah lama gak menulis hingga saya melihat sebuah buku yang berjudul Seni Mendidik Anak seri 2 karya Syaikh Muhammad Said Mursi yang tergeletak dikamar adik saya. Ada banyak materi yang menarik untuk ditulis namun kali ini saya mau menulis tentang waktu yang tepat melatih putri kita memakai hijab.

“barangsiapa memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu ia mengajari mereka adab dan berbuat baik pada mereka dan menikahkan mereka, niscaya baginya surga.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)

Hadits diatas telah mengajarkan kita bahwa Islam telah memberikan perhatian besar pada perempuan sejak mereka kecil hingga mereka menikah (dewasa).

Sabda Rasulullah yang lain berbunyi: “Perintahlah mereka (anak-anak) menjalankan sholat sementara mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakitkan) jika meninggalkan shalat sementara mereka berumur sepuluh tahun.” Ulama mazhab syafii menganalogikan puasa dengan sholat dan para ulama lain juga seperti Syaikh Ash Shabuni mengatakan, ”Seorang muslim dituntut untuk membiasakan anak-anak perempuan mereka untuk memakai hijab syar’i pada saat mereka berumur sepuluh tahun, agar kelak jika dewasa mereka tidak merasa keberatan untuk memakainya. Perintah ini dikiaskan dengan shalat.”

Dalam kesimpulannya, Syaikh Said Mursi mengatakan: “sebelum berusia tujuh tahun, gadis kecil diberikan motivasi untuk mencintai hijab. Setelah mlencapai tujuh tahun, ia diperintah mengenakan hijab. Di usia sepuluh tahun ia harus dipukul (baca: dihukum) jika menanggalkan hijab. Jika hal ini dilakukan, nanti disaat telah mendapatkan haid ia telah terbiasa mengenakan hijab dan susah untuk menanggalkannya.”

Bagi kita para orangtua muda tentu hal ini susah-susah mudah, ada yang bilang kasihan si anak nanti kegerahan/kepanasan dan ada juga yang bilang hijab akan membatasi ruang gerak dan kelincahan si putri, saya pikir bila dilakukan sejak dini semua akan menghantarkan si putri menjadi wanita muslimah sholehah idaman para orangtua. Moga bermanfaat.