1

Cara Menggendong Bayi yang Benar

Untuk Anda yang baru menyandang predikat baru sebagai ayah dan bunda sudah tentu masih agak takut untuk menggendong bayi Anda. Berikut tips cara menggendong bayi yang benar yang saya petik dari bidanku.com:

Mendekatlah Pada si Bayi

Untuk mengangkat bayi, pertama-tama mendekatlah pada si bayi, lalu selipkan satu tangan kita di bagian leher dan kepala untuk menyangganya. Lalu letakan tangan yang satu untuk menopang punggung dan pantatnya.

Letakan Bayi di Lipatan Siku

Saat menggendong, letakan/rebahkan kepala bayi dilipatan siku kita lalu sangga pantatnya dengan telapak tangan. Sekarang bayi bisa kita angkat dengan aman. Ingat lakukan selalu dengan gerakan perlahan. Jangan lupa untuk memegangnya erat-erat, lalu perlahan dekatkan bayi ke arah dada kita. Saat mengangkat bayi dari tempat tidurnya, posisi kepala sejajar dengan bagian tubuh lainnya sedangkan jika sudah dalam gendongan maka posisi kepala bayi harus selalu lebih tinggi dari bagian tubuh lainnya.

Dekat Bayi Pada Dada Kita

Dengan mendekatkan bayi pada dada kita, maka bayi akan merasa senang karena bisa mendengarkan suar detak jantung kita.

Meletakan Bayi

Untuk meletakan bayi di ranjangnya, turunkan tubuhnya dulu hingga menyentuh kasur. Selama itu sangga terus kepalanya, baru setelah tubuh bayi benar-benar aman di atas kasur, tarik tangan kita dari kepalanya dengan perlahan.

Selanjutnya berbekal keyakinan dan naluri Anda sebagai seorang Ayah dan Bunda proses ini akan semakin lebih mudah. So, Selamat mencoba.

0

Tata Cara dan Syarat Menjatuhkan Hukuman Pukulan Kepada Anak Kecil

Terkadang kita sebagai orangtua tak kuasa atau khilaf melayangkan pukulan atau cubitan kepada anak kita yang mungkin mbandel atau nakal. Tapi, tahukah kita bahwa ada tata cara dan batasan dalam menjatuhkan hukuman pukulan kepada anak?? Syaikh Syamsuddin Al-Imbabi dalam Risalah Riyadhah Ash-Shibyan menyebutkan tata cara dan batasannya, yakni:

1. Pukulan diterapkan karena kesalahan fatal yang diperbuat anak, bukan atas dasar kekhawatiran terhadap kesalahan berikutnya yang akan dia lakukan.

2. Hukuman pukulan hendaknya tidak menyakitkan sekali.

3. Hukuman pukulan harus disesuaikan dengan kondisi anak dan usianya.

4. Hukuman pukulan harus dilakukan atas dasar dan untuk tujuan pembinaan, tidak boleh berlebihan dan di luar kewajaran.

5. Pukulan tidak dipusatkan pada satu titik.

6. Antara satu pukulan dengan pukulan berikutnya harus diberi jeda untuk menghilangkan rasa sakit yang pertama.

7. Hendaknya yang memukul tidak mengangkat lengannya, agar daya pukulan tidak terlalu keras dan menyakitkan.

8. Orangtua atau pendidik yang memukul hendaknya tidak dalam keadaan marah. Hal ini dilandasi oleh larangan Rasulullah yang menyatakan bahwa seorang hakim yang sedang marah tidak boleh menjalankan fungsinya sebagai hakim yang mengeluarkan ketetapan hukum. Jika hakim yang menangani orang dewasa saja tidak boleh sambil marah, maka terlebih lagi orangtua atau guru yang mendidik anak.

….Orangtua atau pendidik yang memukul hendaknya tidak dalam keadaan marah. Hal ini dilandasi oleh larangan Rasulullah….

Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz hendak menjalankan hukuman kepada seseorang. Saat hukuman itu hendak dilakukan, dia berkata, “Urungkan!” Lalu dia ditanya mengapa diurungkan, maka dia menjawab, “Saat hendak melakukannya aku merasa kemarahanku sedang memuncak kepadanya. Karena itulah aku tidak ingin menerapkan hukuman itu dalam kondisi aku sedang marah.”

9. Menahan tangan untuk tidak memukul jika mendengar sang anak menyebut nama Allah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika salah seorang di antara kalian sedang memukul pembantunya, lalu pembantunya itu menyebut nama Allah, maka hentikan tangan kalian (dari) memukulnya.” (HR. At-Tirmidzi, dari Abu Sa’id Al-Khudri). Hal tersebut seumpama orang yang telah sadar sebelum hukuman menderanya, karena itu tidak perlu dipukul lagi.

10. Seorang anak hendaknya jangan dipukul sebelum dia berusi 10 tahun, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Rasul mengenai perintah shalat kepada anak.

Hemmh jadi tahu tata cara dan batasannya deh, moga bermanfaat buat ayah dan ibu sekalian tuk mendidik anak-anak kita semua dan semoga kita terhindar dari perilaku orangtua yang salah dalam mendidik anak.

 

disarikan dari voa-islam.com

0

Mendidik Anak Juga Tanggung Jawab Ayah

FOTO; alfiyandi.wordpress

Kesibukan mencari nafkah, kadang mengabaikan kedekatan ayah dengan anak. Ini kisah nyata. Seorang ibu muda tidak berdaya menghadapi ketiga putranya. Si sulung berusia enam tahun, sedang kedua adiknya masih balita. Si ibu sangat kewalahan menghadapi si sulung yang tidak mau berbagi apapun kepada adiknya.

Meski sebentar saja, si sulung akan merebut mainan yang dipegang sang adik. Akibatnya, terjadi saling tarik dan dorong memperebutkan mainan. Rumah jadi berantakan dan tangisan sang adik yang kalah berebut jadi rutinitas keseharian.

Sang ibu ingin mengubah sikap buruk anak sulungnya. Ia memberi nasihat, bahkan hukuman. Tapi tak satupun cara yang ia terapkan berhasil. Keadaan diperparah dengan sikap egois ayah yang tidak mau membantu istrinya menangani si sulung.

Setelah diamati, ternyata akar dari masalah yang membelit keluarga itu sumbernya bukan dari si sulung. Sang anak adalah efek dari inti masalah. Sedang masalah sesungguhnya berasal dari sang ayah.

Lho, kok bisa? Bukankah sang ayah bekerja seharian di luar rumah, tentu nyaris tak pernah bertemu dengan keluarga?

Nah, di situlah pangkal dari semua masalah keluarga muda yang secara sepintas nampak bahagia karena semua kebutuhan materi sudah tercukupi. Lalu apa yang kurang?

Karena kesibukan sang ayah bekerja, bahkan terkesan workaholic, membuatnya jarang berkomunikasi dengan keluarga. Sang ayah terkesan menghindar dari segala hal yang ‘berbau’ rumah. Ia menghindar bila sang anak ingin bermain dengannya. Ia merasa asing dengan keluarganya sendiri karena ia punya dunia sendiri. Hand phone, komputer dan urusan kerjanya, itulah dunianya.

Anak adalah peniru ulung. Sikap egois sang ayah ternyata ditiru putra sulungnya. Setelah melalui penyadaran yang cukup melelahkan pada sang ayah, akhirnya ia mau mengubah sikap terhadap keluarganya. Dampaknya luar biasa. Perubahan sikap sang ayah juga berdampak kepada si sulung. Ternyata tidak terlalu lama sikap tidak mau berbagi si sulung sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Figur Ayah

Penting, setiap anak merasakan sosok figur ayah hadir di hati mereka. Mereka rindu belaian tangan kekar seorang ayah, mereka rindu suara tegas ayah, mereka butuh figur seorang ayah untuk jadi contoh teladan dalam bersikap.

Bila semua itu tak terpenuhi, bisa dipahami bila di kemudian hari anak-anak ini menjadi pribadi yang bermasalah. Bila keadaan bertambah parah, baru kita tersadar ada yang salah dari anak kita. Fatalnya, sebagian orangtua jarang mau mengakui kesalahan itu, selalu anak yang disalahkan. Padahal, sesungguhnya orangtualah yang membuat mereka menjadi pribadi yang bermasalah.

Ayah Pendidik

Tidak bisa disangkal bahwa ayah adalah tulang punggung keluarga. Ia curahkan seluruh kemampuan dan waktunya untuk mencari nafkah agar tercukupi kebutuhan keluarganya. Sedang istri di rumah mengurus rumah, menjaga dan merawat serta mendidik putra-putrinya.

Tetapi belajar dari pengalaman keluarga di atas, ternyata peran ayah tidak berhenti hanya mencari nafkah. Kalau mau dirinci sebenarnya peran ayah sangat besar, bahkan sama dengan peran istri, khususnya dalam pendidikan keluarga. Jadi, suatu kesalahan bila beban pendidikan anak hanya diserahkan sepenuhnya kepada sang istri.

Mencari nafkah memang tugas berat bagi suami. Apalagi, jika suami juga berdakwah membina umat yang sepertinya tidak ada putusnya. Tanpa mengurangi tanggung jawab tersebut, mendidik keluarga harusnya juga dimasukan dalam agenda pembinaan. Jangan sampai sukses di luar, tapi istri dan anak terabaikan. Bukankah sebagai pemimpin keluarga dituntut untuk menyelematkan keluarga dari api neraka?

“Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim [66]: 6).

Dalam suatu riwayat dikisahkan, seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Dia bertanya, ”Hai Rasulullah, apakah hak-hak bagi anakku terhadap diriku?” Rasulullah SAW menjawab: ”Hendaklah engkau memberinya nama yang bagus, mendidiknya dengan baik, dan menempatkannya di tempat yang baik.”

Ayah Penuh Cinta

Betapa sering kita abaikan anak-anak yang dititipkan pada kita. Padahal, anak adalah amanah sekaligus anugerah terindah dari-Nya. Kita sering memposisikan anak sebagai milik kita sehingga kita bebas memperlakukan mereka.

Kata ‘mendidik dengan baik’ dari Hadits di atas mengandung pengertian perlakuan yang baik. Bukankah anak belajar dari perilaku kita? Bukankah anak akan belajar membenci bila kita sering mencelanya. Begitupun ia akan belajar mencintai bila kita mencintai dan menyayanginya.

Terkait dengan menyayangi anak, Rasulullah SAW berpesan: ”Barangsiapa mencium anaknya, Allah akan menuliskan untuknya satu kebajikan. Barangsiapa menggembirakan anaknya Allah akan menggembirakannya di hari kiamat kelak. Barangsiapa mengajarkan al-Qur’an kepada anaknya, maka kedua ibu bapaknya akan dipanggil untuk diberi dua pasang pakaian yang indah dan dari wajah mereka akan tampak bahwa mereka adalah penghuni surga.”

Siapa yang tidak tahu bahwa tugas kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah sangat berat. Jadwal hidupnya sangat padat untuk berdakwah dan mengurus umat, tapi beliau masih tetap memperhatikan keluarganya. Cucu beliau, Hasan dan Husein tidak takut menaiki punggungnya untuk bermain. Rasulullah SAW juga tidak canggung bermain dengan anak-anak. Beliau biasa mencium anak perempuannya ketika masyarakat Quraisy sangat membenci memiliki anak perempuan.

Begitupun ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, sering memberi pesan kepada putranya Hasan sebagai wujud cinta dan perhatiannya pada putranya. Simaklah pesannya:

“…dan kudapati engkau sebagai bagian diriku, malahan kudapati engkau sebagai keseluruhan diriku, sehingga kalau ada sesuatu menimpamu, maka hal itu pun menimpa diriku. Seandainya kematian datang kepadamu, maka hal itu juga datang kepadaku. Apa saja yang engkau derita juga menjadikan diriku menderita.”

Jikalau ikatan perasaan yang amat agung itu merupakan perasaan para ayah yang dicurahkan kepada anaknya, maka dengan sendirinya akan timbul rasa hormat dan bakti anak terhadap sang ayah. Ikatan agung inilah yang akhirnya melahirkan generasi-generasi rabbani, generasi terbaik sepanjang masa yang siap menyongsong kehidupan penuh rahmah.

Tidak disangsikan lagi lahirnya pahlawan dan ulama sekaliber Hasan, Husein, ‘Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Ja’far, Fadhl bin Abbas, dan ‘Abdullah bin Abbas adalah karena banyaknya manusia-manusia yang berkualitas pada saat itu. Sehingga zaman itu disebut sebagai khairul-qurun, sebaik-baik masa.

Kalau kita ingin anak kita seperti generasi khairul-qurun, maka peran ayah dalam pendidikan keluarga tidak bisa diabaikan. Wallahua’lam bish-shawab. SUARA HIDAYATULLAH OKTOBER 2008

*Sri Lestari/anggota Muslimat Hidayatullah, tinggal di Yogyakarta

0

Membiasakan Si Kakak Mencintai Sang Adik Baru

“Gak mau, gak mau ini kasur Liana”, itulah kalimat yang keluar dari Liana (Si Kakak yang berumur 3 tahun) saat Adik Luthfi baru saja pulang dari RSIA Buah Hati Ciputat 27 Juli 2011 lalu dan akan dibaringkan di kasur. Kalimat yang menandakan penolakan sang kakak akan kehadiran adik barunya. Satu kalimat yang dapat dimaklumi mengingat selama ini sang kakak selalu menjadi pusat perhatian Ayah dan Buli (Ibunya Liana) dan kini mengingat usia Luthfi yang baru beberapa hari Buli cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyusui Luthfi dan mengajaknya bermain sehingga si kakak merasa terabaikan.

Menyadari hal ini Buli memberikan langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan, tentunya hasil dari browsing sana sini:). Langkah pertama adalah memberikan pengertian dengan bahasa seumurnya bahwa Luthfi adalah adiknya sendiri yang harus di sayang. Kedua, Buli mencoba selalu melibatkan si kakak dalam segala interaksinya dengan si adik, sebagai contoh mencoba memeluk juga si kakak ketika menyusui si adik atau meminta tolong si kakak tuk mengambilkan popok ketika si adik pipis. Ketiga, jika si kakak ngambek/marah pada si adik karena iri segera alihkan perhatian si kakak dengan hal yang lain seperti mainan atau kegiatan lainnya. Keempat, pastinya libatkan Ayah “the breastfeeding father” untuk menghangatkan suasana.

Minimal dengan keempat hal tersebut si kakak akan terminimalisir rasa cemburu akan kehadiran si adik baru dan mudah-mudahan dapat merubah rasa iri tersebut menjadi rasa cinta kasih dan sayang kakak kepada adiknya. Semoga bermanfaat.

 

1

Istri-istri Rasulullah

Pada awalnya, keluarga Rasulullah SAW tidak jauh berbeda dengan yang lain. Beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwaylid, seorang saudagar kaya yang saat itu telah menjadi janda. Rasulullah telah bekerja sebagai manager ekspedisi perniagaan Khadijah sebelum beliau mengawininya.

Beliau sangat mencintai dan menyayangi Khadijah sampai akhir hayatnya, dan hanya menikah lagi sepeninggal Khadijah. Ada banyak kisah yang menceritakan betapa cinta dan sayangnya Rasulullah SAW kepada istrinya ini. Perkawinan-perkawinan Rasulullah SAW berikutnya dilatarbelakangi oleh beberapa hal namun tidak ada yang didasarkan pada hawa nafsu belaka. Berikut ini nama-nama “Ummahatul-Mu’minin” menurut kronologi pernikahan mereka dengan Rasulullah SAW:

  1. Khodijah binti Khuwailid RA. (556-619 M)
    Status ketika menikah: Janda karena ditinggal wafat oleh 2 suami terdahulu, yaitu Abi Haleh Al Tamimy dan Oteaq Almakzomy
    Periode menikah: Tahun 595M di Mekkah ketika usia Rasulullah SAW 25 tahun dan Khodijah 40 tahun.
    Anak: Dari pernikahannya dengan Khodijah, Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau (Al-Qosim dan Abdullah) meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.
    Fakta penting: Khodijah RA adalah orang pertama yang mengakui kerasulan suaminya. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup. Khodijah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah SAW.
  2. Saudah binti Zam’a RA. (596 – 674 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Sakran bin ‘Amr bin Abdi Syams yang turut berhijrah ke Habsyah (Abyssinia, Ethiopia)
    Periode menikah: Tahun 631M ketika Saudah berusia 35 tahun.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Tujuan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk menyelamatkannya dari kekafiran akibat menjanda. Keluarga Saudah RA masih kafir dan dipastikan akan mempengaruhi kembali Saudah jika tidak diselamatkan.
  3. Aisyah binti Abu Bakar RA. (614-678 M)
    Status ketika menikah: Gadis. Aisyah RA berumur antara 6 hingga 9 tahun ketika Rasulullah menikahinya. Tetapi mereka baru bercampur setelah Aisyah cukup umur.
    Periode menikah: bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah. Tujuan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk mendekatkan hubungan dengan keluarga Abu Bakar (yang merupakan sahabat utama Rasulullah SAW dan merupakan khalifah pertama setelah Rasulullah SAW meninggal).
  4. Hafsoh binti Umar bin Khatab RA. (607-antara 648 dan 665 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Khunais bin Hudzaifah yang gugur sebagai syahid dalam Perang Badar.
    Periode menikah: tidak lama setelah Perang Badar usai, tahun ke-3 Hijriyah
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Rasulullah SAW menikahinya untuk menghormati ayah Hafsoh, yaitu Umar bin Khatab RA yang kelak menjadi khalifah kedua setelah Rasulullah SAW meninggal.
  5. Zainab binti Khuzaimah RA. (595-626 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Abdullah bin Jahsi yang gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
    Periode menikah: tahun ke-4 Hijriyah
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Zainab RA meninggal dunia 2-3 bulan setelah menikah dengan Rasulullah SAW.
  6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA. (599–683 M)
    Status ketika menikah:  Janda dari Abu Salamah dengan meninggalkan 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.
    Periode menikah: bulan Syawal tahun ke-4 Hijriyah.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Rasulullah SAW menikahinya dengan tujuan menjaga keluarga dan anak-anak Ummu Salamah.
  7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA. (588/561 – 641 M)
    Status ketika menikah: Janda cerai dari Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah SAW.
    Periode menikah:  bulan Dzulqoidah tahun ke-5 Hijriyah.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Zainab adalah putri bibi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menikahinya atas perintah Allah SWT (QS: 33:37)
  8. Juwairiyah binti Al-Harits RA. (605-670 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Masafeah Ibn Safuan.
    Periode menikah: bulan Sya’ban tahun ke-6 Hijriyah.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Juwairiyah RA adalah putri dari al-Harits bin Dhirar, pemimpin Bani Mustalik yang pernah berkomplot untuk membunuh Rasulullah SAW, namun berhasil ditaklukan. Juwairiyah kemudian menjadi tawanan perang yang dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menikahinya untuk melunakkan hati sukunya kepada Islam.
  9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA (591-665 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Ubaidillah bin Jahsy yang hijrah bersamanya ke Habsyah.
    Periode menikah: bulan Muharrom tahun ke-7 Hijriyah lewat khitbah melalui raja Najasy.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: suami Ummu Habibah pertama (Ubaidillah) tersebut murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di Habsyah. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Alasan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Selain itu sebagai penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.
  10. Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA. (628–672 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Kinanah, salah seorang tokoh Yahudi yang terbunuh dalam perang Khaibar.
    Periode menikah: 628 M, tahun ke-7 Hijriyah.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Shafiyah adalah istri Rasulullah SAW yang berlatarbelakang etnis Yahudi. Sukunya diserang karena telah melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati dengan kaum Muslimin. Shafiyyah termasuk salah seorang tawanan saat itu. Nabi berjanji menikahinya jika ia masuk Islam. Maka masuklah ia dalam Islam.
  11. Maimunah binti Al- Harits RA. (602- 681 M)
    Status ketika menikah: Janda dari Abd al-Rahman bin Abdil-Uzza.
    Periode menikah: Dzulqoidah tahun ke-7 Hijriyah.
    Anak: tidak ada.
    Fakta penting: Rasulullah SAW menikahinya sebagai penghormatan bagi keluarganya yang telah saling tolong menolong dengannya. Maimunah sendirilah yang datang menemui Rasulullah SAW dan meminta agar menikahinya.
  12. Mariah Al-Qibthiyah RA.
    Status ketika menikah: Hamba sahaya Rasulullah SAW sebagai hadiah dari Muqauqis, seorang penguasa Mesir.
    Periode menikah: 3 tahun sebelum Rasulullah SAW wafat.
    Anak: Ibrahim (meninggal dunia pada usia 18 bulan).

Demikianlah sekilas mengenai istri-istri Rasulullah SAW yang luar biasa. Jelaslah bahwa Rasulullah SAW memiliki alasan yang kuat dalam setiap pernikahannya. Semua dilandasi atas kecintaan pada Allah SWT dan umatnya. Semoga kita semua terbebas dari pikiran-pikiran buruk dan hasutan kaum kafir mengenai beliau. Amin.

 

dipetik dari http://cara-muhammad.com