0

Arti Hidup dari Sebatang Pensil

temans, entah mengapa tiba-tiba saya teringat khutbah jumat seminggu yang lalu, ketika itu saya diberi kesempatan untuk sholat jumat di masjid Pasaraya Blok M.

ketika khotib naik mimbar, entah namanya siapa, yang jelas sang khotib dipanggil professor oleh panitia sholat jumat masjid al latief tersebut.

judul khutbahnya sangat singkat, sederhana sekali, yakni meneladani hidup dari sebatang pensil. isinya menakjubkan, dimulai dengan ayat 4 surat al alaq. selanjutnya khutbah berisi kurang lebih seperti ini:

Tulisan ini menceritakan kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya, maka, beberapa wejanganpun diberikan kepada si pensil.

Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya, Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apapun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat menulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis seperti macet atau rusak, maka tugas utamamu gagal.

Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi lebih optimal

Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia

Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu

Kelima, bila kamu membuat kesalahan, jangan pernah ragu untuk secepatnya menggunakan penghapus yang ada dalam dirimu untuk menghapus kesalahan itu.

Keenam, di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat.
Sejak itulah, pensil itupun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.

Kisah pensil ini mengingatkan tujuan dari kehadiran manusia ke dunia ini. Setiap mamusia seharusnya meyakini, bukanlah tanpa sebab ia diciptakan dan dilahirkan, dengan demikian, kehadirannya di dunia ini harus menggenapi dan menyelesaikan tujuannya.

pensil1

dalam sekali rasanya isi khutbah ini, dengan contoh yang sangat simpel, hanya dari sebatang pensil.

mudah-mudahan bisa bermanfaat buat kita semua.

0

Alhamdulillah Sudah 7 Tahun (Sebuah Catatan Perjalanan Hidup)

Hari ini, Selasa 28 Oktober 2014 tepat 7 tahun usia pernikahan kami. Alhamdulillah suka duka selalu kami hadapi bersama, dari dihadapi hanya berdua kini dihadapi dengan 5 orang. hehehe. Kini, ada Si Kaka Liana (6 tahun), Si Abang Lufi (3 tahun), dan Si Ade Aufa (bentar lagi 2 tahun). Alhamdulillah semuanya sehat wal afiat. Si Kaka udah kelas 1 SDIT di Asshidiqiyah, ga jauh dari rumah. Hafalannya sudah banyak, dari Al Fatihah sampe Al Fiil plus An Nabaa yang sudah 21 ayat (sampe dengan hari ini) dari 40 ayat. Si Abang lagi seru-serunya di PAUD Melati, ga jauh dari rumah juga, pastinya klo si Abang lagi sekolah si Ade juga ikutan berangkat.

 

Bu Ima, begitu ibu dari anak-anakku dipanggil, tampak lebih gemuk sekarang, hehehe, itu artinya aku berhasil membahagiakan istriku tercinta. Klo mau instrospeksi pake balanced scorecard rasanya dalam kategori perspektif customer, perspektif proses internal business process, learning and growth, semua itu rasanya bernilai baik, hanya perspektif financial saja yang masih warna merah. hahaha… belum ada “sesuatu” yang bisa dibanggakan. yang jelas kami tak pernah berhenti berdoa, berusaha, dan berdoa lagi. mungkin Allah dan para malaikat-Nya masih senang mendengarkan doa-doa kami, doa si Kaka yang hampir tiap malam ingin rumah yang besar, kamar sendiri, sepeda yang besar dan mobil. Insyaa Allah tepat pada waktunya hal itu semua akan terpenuhi. aamiin.

 

28 Oktober 2007 – 28 Oktober 2014. Alhamdulillah, Terima Kasih Yaa Allah.

 

 

 

0

Wanita Dunia Lebih Baik Lebih Baik dari Bidadari Surga

liluTentu sudah tahu gambaran bidadari surga, bening seperti mutiara ( al waqiah;23), baik-baik dan cantik jelita (arrahman;70), kelembutannya (asshoffat;49) tapiii ternyata semua itu kalah oleh wanita dunia.

“manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli??” Rasulullah berkata;”wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dengan apa yang tak tampak.”

“karena apa wanita dunia lebih utama dari mereka??” Beliau menjawab;”karena, SHOLAT, PUASA dan IBADAH mereka. sehingga Allah meletakkan CAHAYA diwajah mereka. tubuh mereka seperti KAIN SUTRA, kulitnya PUTIH BERSIH, pakaiannya berwarna HIJAU, perhiasannya KEKUNINGPKUNINGAN , sanggulnya MUTIARA, dan sisirnya terbuat dari EMAS.”

ternyataaa,…bidadari pun kalah dengan wanita dunia. maukah ukhti mengalahkan bidadari surga tersebut??

disarikan dari hikmah republika.

0

Untuk Murabbi-ku

Ustad,.. kau tahu betapa lemah imanku

kau tahu betapa mudah aku tergelincir, terjerembab dan terjatuh layu

dilembah futur

Ustad,..betapa mudah aku mencari alasan tuk tak datang ke majlis ilmumu

cuaca panas, hujan, pekerjaan hingga keluarga menjadi alasanku tuk tak mendatangimu

Aku tahu,..bukannya kau tak tahu

tapi kau slalu berusaha memahamiku, mengerti aku dan tetap dijalan dakwahmu

beraneka jamuan kau suguhkan

dari jamuan ilmu hingga ke jamuan perutku

tak pernahkah kau merasa menyesal??

tak pernahkah kau merasa takut maisyahmu habis sia-sia??

tak pernahkah kau ingin berhenti??

Ustad..bersitkan aku ghirah dakwahmu

percikkan aku keistiqomahanmu

ajarkan aku kedermawananmu

agar aku mampu…tegar di halaqahmu

agar aku mampu…melebihimu

demi akhiratku

0

‘Menanam Manusia’

Menanam Manusia, itu judul yang saya pilih untuk catatan di jumat pagi ini. Judul itu saya pilih karena saya membaca sebuah pepatah china yang disampaikan oleh seorang narasumber dalam suatu acara workshop.

Redaksional lengkap pepatah china yang sudah di-inggriskan itu begini:

if you want one year of prosperity, grow grain

if you want ten years of prosperity, grow trees

if you want one hundred years of prosperity, grow people

buat saya, pepatah singkat ini sangat bermakna sekali, menyiratkan begitu berharganya ‘manusia’ dalam mengembangkan sebuah peradaban, sebuah peradaban yang menghasilkan kesejahteraan/kemakmuran (prosperity).

sudah saatnya manusia dihargai lebih, sudah saatnya pembangunan tak hanya berfokus pada infrastruktur, pembangunan fisik semata, tetapi sudah saatnya kita berfokus kepada pembangunan manusia. anggapan bahwa manusia (dalam manajemen perusahaan) adalah beban (pekerja) haruslah berganti menjadi manusia (pekerja) adalah sebuah investasi besar (perusahaan). seperti pepatah china diatas yang mengatakan jika kita hanya berorientasi pada kemakmuran/kesejahteraan hanya dalam periode tahunan (1 tahun) cukuplah bagi kita untuk menanam benih/biji-bijian karena benih tersebut sekiranya dapat mencukupi kebutuhan kita dalam satu tahun (panen). pun begitu jika kita menginginkan kemakmuran dalam periode dasawarsa (10 tahun), cukuplah bagi kita untuk menanam pepohonan yang akan berbuah (panen) tiap tahun dan mempunyai masa ekonomis y

ang dapat memenuhi kita 10 tahun kedepan. tetapi, jika kita menginginkan kesejahteraan lebih dari itu, lebih dari 1 tahun, lebih dari 10 tahun, yakni 100 tahun atau bahkan ribuan tahun kedepan maka tanamlah ‘manusia’.

menanam manusia bukanlah berarti kita harus mengubur hidup-hidup manusia, tetapi menanam manusia berarti kita harus mendidik manusia dengan ilmu yang bermanfaat untuk menciptakan generasi tak hanya hitungan satuan tahun, puluhan tahun, tetapi ber-abad-abad tahun kedepan.

pendidikan berperan besar dalam menciptakan one hundred years prosperity ini, karena hanya dengan pendidikan yang baik, berakhlak kita dapat memetik buah dari ‘benih manusia’ yang kita tanam, tak harus sekarang tapi mungkin 4 tahun kedepan, 10 tahun ke depan atau lebih dari itu, dan tak harus kita yang memetiknya, biarkan itu menjadi hak anak cucu kita kapanpun itu masa panennya. sekarang, yang penting yang harus kita lakukan adalah melatih diri kita menjadi ‘petani’ yang baik yang siap ‘menanam manusia’. Insya Allah