0

Pemimpin yang Mengurus Perkawinan

sakinah

Salah satu ciri pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan kebutuhan (fitrah) anak buahnya. Seperti dicontohkan Rasulullah Saw terhadap salah seorang pembantu rumah tangganya, Rabiah al Aslamy. Rabiah adalah seorang pembantu Rasulullah yang telah dewasa. Suatu ketika, beliau bertanya kepadanya: “Apakah kamu tidak ingin menikah?”

“Demi Allah, aku tidak menginginkannya karena aku tidak punya apa-apa untuk menghidupi istri. Apalagi, aku tidak suka ada sesuatu yang menyibuki diriku sehingga aku tidak bisa mengerjakan sesuatu untukmu”, jawab Rabiah.

Rasulullah masih bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama dan Rabiah pun menjawab dengan jawaban yang sama pula. Namun, dalam hatinya ia berkata: “Demi Allah, tentu Rasulullah lebih tahu daripada aku apa yang lebih tepat bagiku di dunia dan akhirat. Maka, bila Rasulullah bertanya lagi aku akan menjawab: “Ya Rasul, perintahkan kepadaku menurut kehendakmu.”

Ternyata, beliau bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama seperti tadi. Rabiah pun menjawab dengan jawaban yang sudah dipersiapkannya itu. Rasulullah kemudian mengatakan “Pergilah ke keluarga Fulan dari kalangan anshar. Katakan kepada mereka, “Sesungguhnya, Rasul mengutusku kepada kalian agar kalian menikahkan aku dengan si fulanah (salah seorang diantara wanita mereka).”

Rabiah kemudian berangkat ke sana dan ia pun mengatakan apa yang diajarkan oleh Rasul kepadanya.

Mereka menjawab: “Selamat datang kepada Rasulullah dan utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh kembali sebelum keperluannya terpenuhi.”

Mereka kemudian menikahkan Rabiah, berlaku lemah lembut, dan tidak menanyakan mas kawin. Rabiah kemudian kembali kepada Rasulullah dengan perasaan sedih. Rabiah mengatakan kepada Rasul, “Ya Rasul aku telah mendatangi suatu kaum yang mulia, mereka menikahkan aku berlaku lemah lembut kepadaku dan tidak menanyakan mas kawin yang seharusnya aku tunaikan. padahal aku tidak punya apa-apa untuk mas kawin.”

Rasulullah kemudian mengatakan, “Wahai orang-orang aslam, kumpulkan dan berikan kepadanya butir-butir emas.”

Mereka mengumpulkan butir-butir emas dan memberikannya kepada Rabiah dan membawanya kepada Rasul. Sesudah itu, beliau menyatakan, “Pergilah dan bawalah ini kepada mereka dan katakan, “ini mas kawinnya.”

Rabiah kemudian mendatangi mereka dan mereka pun menerima mas kawin itu dengan senang hati, bahkan mereka mengatakan, “ini cukup banyak dan baik”

Sesudah itu Rabiah kembali lagi kepada Rasul dengan wajah muram. Beliau pun bertanya, “Wahai Rabiah mengapa kamu kelihatan sedih?”

” Ya Rasul aku belum pernah melihat suatu kaum yang lebih mulia dari mereka yang rela dengan apa yang kuberikan, berbuat dan berkata baik. Padahal, aku tidak punya apa-apa untuk resepsi perkawinan.”, jelas Rabiah.

Rasulullah bersabda lagi, “Wahai orang-orang, kumpulkan domba untuknya.” Maka, merekapun mengumpulkan domba-domba yang gemuk untuk Rabiah. Bahkan beliau menyatakan lagi, “Pergilah kepada Aisyah dan katakan kepadanya, “Hendaklah kamu mengirim sekeranjang makanan.”

Aisyah memberikan sembilan takar gandum, jumlah yang cukup banyak. Bahkan ia mengatakan, “Andai kami masih mempunyai makanan selain itu, kamu boleh mengambilnya.”

Setelah Rabiah memperlihatkan apa yang diterimanya kepada Rasul, maka beliau memerintahkan agar Rabiah segera membawanya kepada mertuanya itu. Ketika Rabiah tiba bersama beberapa sahabat, sang mertua mengatakan, “Kalau roti cukup kami yang mengerjakannya, sedangkan domba kalian yang mengerjakannya.”

Alhasil, Rabiah bersama beberapa sahabat menyembelih, menguliti dan memasak domba itu. Maka diadakanlah walimah dengan roti dan daging kambing.

Dari kisah diatas, ada pelajaran yang dapat kita petik bersama tentang tipikal seorang pemimpin, yakni:

1. Setiap pemimpin hendaknya memahami dan merespon apa yang menjadi kebutuhan anak buah atau masyarakatnya. Kepekaan seorang pemimpin mestilah terus diasah agar responsif terhadap lingkungannya.

2. Hendaknya seorang pemimpin mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya mempermudah bukan mempersulit keadaan anak buah atau masyarakatnya.

Semoga bermanfaat.

disarikan oleh penulis dari buku “beginilah seharusnya menjadi pemimpin, ust ahmad yani”.

0

Pemimpin yang Berani

Selasa kemarin selesai mengajar, saya mampir disebuah acara, mampir karena dipanggil beberapa kawan yang menjadi panitia yang didepannya terdapat jejeran buku yang dijual. Rupanya sedang ada pelatihan tata kelola keuangan masjid, narasumbernya Ustad. Drs. Ahmad Yani, sedangkan para pesertanya adalah para anggota atau pengurus DKM masjid. Luar biasa, ternyata masih banyak orang yang perduli upgrading ilmu para takmir masjid.

Saya kemudian melihat-lihat jejeran buku yang dipajang didepan, ada buku menarik yang berjudul “Beginilah seharusnya menjadi pemimpin, 60 kisah pemimpin sejati” dengan penulis sang narasumber tadi. Harganya murah meriah, 36ribu. Di postingan kali ini saya mau mengutip cerita pertama dari buku tersebut, yakni tentang Pemimpin yang berani. Ceritanya gini,

Dalam kehidupan masyarakat, suasana aman dan damai tidak selalu bisa dipertahankan. Secara internal, mungkin hal itu bisa diwujudkan, namun bisa jadi ada negara lain yang tidak suka dengan kemajuan yang telah dicapai. Mereka berusaha untuk menghancurkan kaum muslimin. Dalam konteks ini, kadangkala terjadi peperangan secara fisik. Karena itu, pemimpin yang berani dalam menghadapi musuh dikala perang menjadi hal yang penting sehingga masyarakat yang dipimpinnya terdorong untuk memiliki keberanian sebagaimana pemimpinnya. Rasulullah saw merupakan satu diantara pemimpin yang berani itu.

Dalam medan tempur, Rasulullah saw seringkali berada pada barisan terdepan dalam menghadapi musuh. Karena itu, Ibnu Umar mengatakan, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berani dari Nabi Saw”. Sementara Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Apabila pertempuran menjadi sengit, para sahabat mencari tempat berlindung didekat beliau”. Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw adalah yang paling berani dari semua”.

Ketika perang badar terjadi, pasukan Rasulullah hanya berjumlah 314 orang, sedangkan pasukan musuh sebanyak 1000 orang lebih. Keberanian Rasulullah saw telah menggelorakan semangat para sahabat sehingga perang itu berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin. Di saat perang hunain, kekalahan hampir saja terjadi dikalangan kaum muslimin. Pasalnya pasukan muslim yang kali ini jumlahnya lebih banyak ternyata menganggap remeh lawan sehingga musuh menunjukkan kekuatannya. Alhasil para sahabat yang menjadi anggota pasukan lari kocar kacir. Dalam situasi seperti itu sebagai pemimpin, Rasulullah tetap berada pada posisinya dalam menghadapi musuh, beliau terus bertempur sambil memanggil kembali para sahabat yang telah meninggalkan medan laga. Melihat dan mendengar hal itu satu demi satu para sahabat memenuhi panggilan Rasul sebagai pemimpin dan panglima perang.

Pasukan muslim kembali terhimpun, Rasulullah tidak hanya sekedar mengobarkan semangat dan keberanian melainkan juga yang lebih penting lagi adalah memberi contoh langsung bagaimana keberanian itu harus ditunjukkan. Alhasil meskipun pasukan muslim jumlahnya tinggal sedikit, kemenangan tetap bisa diraih sebagaimana yang diharapkan.

Itulah sepenggal kisah tentang sosok pemimpin yang berani dari buku pak ustad. Semoga kelak kita apabila ditakdirkan menjadi seorang pemimpin dapat bersikap sedemikian. insyaa Allah.

0

Keutamaan Sedekah Pada Keluarga

sedekah

Zainab istri Abdullah bin Mas’ud berkata: Bersabda Rasullullah s.a.w : “Bersedekahlah wahai kaum wanita walau dari perhiasanmu.” Maka saya kembali kepada suamiku berkata: “Engkau seorang yang tidak punya, dan Rasullullah menyuruh kami bersedekah, coba tanyakan kepadanya kalau boleh, saya bersedekah kepadamu, kalau tidak saya berikan kepada lain orang.” Berkata Abdullah : “Tanyakan sendiri.”

Maka pergilah Zainab, mendadak bertemu dengan seorang wanita dimuka pintu Rasulullah yang hajatnya bersamaan dengan Zainab. Maka Bilal keluar dan kami berkata: “Beritahukan kepada Rasulullah bahwa ada dua orang perempuan bertanya: Bolehkah bersedekah pada suami dan anak-anak yatim yang dipeliharanya, tetapi jangan diberitahu siapa kami.”

Maka Bilal masuk ke rumah Rasulullah menyampaikan hal yang ditanyakan kedua perempuan itu. Rasulullah bertanya, “Siapakah kedua perempuan itu?” Jawab Bilal: “Seorang perempuan Anshar, dan Zainab.” Tanya Nabi : “Zainab yang manakah?” Bilal menjawab: “Zainab istri Abdullah bin Mas’ud.”

Kemudian Rasulullah menyampaikan: “Bagi keduanya dua pahala, pahala sedekah dan pahala membantu keluarga (kerabat).”

(HR Bukhori Muslim)

*Dari kitab Riyadhus Sholihin, bab “Bakti Taat Kepada Kedua Orangtua dan Menghubungi Sanak Kerabat”

http://www.pkspiyungan.org/2014/09/keutamaan-shodaqoh-pada-keluarga.html